Arsitek yang juga professor di University of Tōkyō ini memang meiliki ke-khas-an dalam desainnya. Tidak sekedar ide yang original dan unique, namun juga bisa dibilang diluar nalar. Desainnya seakan membangkitakan imajinasi kanak-kanak maupun perwujudan dari dongeng-dongeng kuno Jepang. Namun jika dicermati, sesungguhnya dalam tiap desainnya tercermin semangat arsitektur tradisional Jepang yang sangat kuat, bagaimanapun dia menyandang gelar professor.
(Lamune Onsen, Ōita Prefecture 2004-2005)
Awal debutnya adalah pada tahun 1970 Terunobu Fujimori membentuk Architecture Detectives bersama beberapa rekan kampusnya, mereka menelusuri kota, mencari dan memotret bangunan-bangunan (tua) bergaya barat. sebuah riset kecil namun mereka tekuni hingga 12 tahun dan akhirnya berhasil dipublikasi dalam bentuk buku: Adventures of an Architectural Detective: Tokyo (1986). Riset kecil ini cukup menarik dengan setting Tokyo dikarenakan memang semenjak Restorasi Meiji memang ada perubahan besar terutama di kota kota besar di Jepang. Dimana sebenarnya muncul dua kubu antara yang menerima pengaruh budaya barat dan ada pula yang sangat menolak. Dan penolakan akan budaya barat memang sebuaha arus besar disana, terlebih lagi pasca perang dunia kedua.
(Jinchokan Moriya Historical Museum, Nagano Prefecture 1991)
Di tahun 1986 dia bersama Genpei Akasegawa, Shinbo Minami, Joji Hayashi, Tetsuo Matsuda membentuk ROJO Society yang mengumpulkan "serpihan" kota dari perspektif yang berbeda. Kemudian setelah sekian lama menggeluti profesi sebagai peneliti sejarah dan penulis akhirnya di usia 44tahun dia benar-benar menjadi arsitek, dengan karya pertamanya adalah Jinchokan Moriya Historical Museum. Sejak karya pertamanya ini Terunobu Fujimori mampu memperlihatkan karakter desainnya. Sangat menarik, disaat arsitek-arsitek lain berusaha membangun karakter ke-unik-an nya dengan desain yang modern, SCI-FI, hi-tech, futuristik sehingga muncul bangunan-bangunan yang seperti alien turun ke bumi, namun Terunobu Fujimori mewujudkan imajinasi yang sangat luar biasa namun dengan balutan material yang natural. Tanah liat, Kayu, batu alam, bahkan tanaman hidup pun terrangkai dalam karyanya. Pengerjaannya pun tidak membutuhkan peralatan modern karena bahkan dia hanya menggunakan potongan kayu yang dihaluskan dengan kampak. Kayu diawetkan dengan cara dibakar permukaannya dan sambungan antar kayu hanya dengan pasak kayu (sambungan semacam ini banyak juga ditemukan dalam bangunan tradisional di Indonesia). Dia pun suka membangun karyanya dengan tangannya sendiri, bahkan sendirian seperti Takasugi-an Tea House, yang dibangun olehnya, untuknya, di kota tempat tinggalnya dimasa kecil.
(Takasugi-an Tea House, Nagano Prefecture 2003-2004)
Terunobu Fujimori mulai dikenal dunia internasional sejak keikutsertaannya bersama ROJO Society di Venice Biennale: 10th International Architecture Exhibition 2006. Mereka membawa nama Jepang dan menampilkan karya-karya Terunobu beserta maket yang terbuat dari kayu utuh yang dipahat.
(model ‘ku-an’ by hitoshi akino, 2006 - ‘ku-an’ - right angle teahouse by terunobu fujimori, 2003)
(Coal House )
(Charred Cedar House, 2007 )
(Grass House /Dandelion House, 1995)
(mudboat)
Video diatas menampilkan proses pembuatan Beetles House dan disitu bisa kita lihat bagaimana proses membakar kulit luar kayu sebagai proses pengawetan, meskipun pada video diatas menggunakan alat modern namun kurang lebih sama.
sumber bacaan tambahan:
Takasugi-an Tea House,
Mudboat
Beetles House
Black Teahouse, RMIT









Sangat menarik, gw belum pernah dengar tentang arsitek ini sebelumnya.. kalo melihat dari karyanya, sepertinya dia tipikal arsitek yg menjunjung tinggi craftmanship ya.. namun disisi lain dia juga berani bereksperimen sama bentuk2 asimetris. Biasanya arsitek jepang yg craftman cenderung mengambil bentuk2 sederhana dan aman, tidak seperti ini.
BalasHapusSebagai catatan, kemungkinan besar teknik2 yg dia gunakan kn berasal dari kearifan lokal sana.. maksudnya bukan berasal dari ide dia orisinil. seperti contohnya coal house, dindingnya ini memang arang betulan. dibuat dengan cara membakar papan2 kayu itu sampai jadi arang bagian luarnya. makanya warnanya jadi hitam. ini menarik karena waktu ke Naoshima, gw melihat perlakuan material yg serupa, tapi dirumah-rumah penduduk. yang kecil dan pastinya tanpa sentuhan arsitek. tujuan aslinya adalah untuk melindungi kayu2 tersebut dari rayap.
mungkin hal-hal seperti ini yang dia temukan ketika jadi detektif konan.. hehehe
betul sekali yang telah mas auriza paparkan, dan seperti yang saya ungkapkan juga pada awal artikel diatas bahwasanya memang karyanya kental dengan arsitektur tradisional jepang, mulai dari material , sistem sambungan kayu hingga proses pengawetannya (dibakar permukaannya). itulah yang menjadi semakin menarik karena dia membuat karakteristik arsitektur baru dengan platform tradisional yang sangat kuat. lebih lanjut lagi saya sedang mencoba mendalami juga kemungkinan pengembangan karakter arsitektur baru yang dikembangkan dari arsitektur tradisional di Indonesia yang teramat beraneka ragam :)
BalasHapuskeren desainnya
BalasHapus